Gawe Pati (Mate): Ritual Penghormatan Pada Leluhur di Lombok
Bagi masyarakat Sasak di Lombok Timur, khususnya di Desa Tetebatu, Gawe Pati merupakan ritual adat yang penuh makna spiritual dan sosial. Tradisi ini dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah leluhur sekaligus sebagai pengingat hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal dunia. Gawe Pati bukan sekadar upacara keagamaan, melainkan simbol gotong royong dan solidaritas sosial, karena seluruh warga desa turut berpartisipasi dalam setiap tahap pelaksanaannya.
Ritual Gawe Pati terdiri atas beberapa tahapan yang dilaksanakan secara berurutan sesuai hitungan hari setelah penguburan jenazah. Tahap pertama adalah Roah Ulek Layatan, yang dilakukan segera setelah penguburan hingga hari kesembilan, pagi dan sore, yang dikenal dengan istilah majek. Selanjutnya, pada hari ketiga diadakan Nelung, disusul Mituq pada hari ketujuh, dan Nyiwaq pada hari kesembilan sebagai puncak acara. Pada tahap Nyiwaq, keluarga almarhum menyiapkan berbagai perlengkapan seperti kemosak lelekan, tiper lelekan, ancak tokol, dan penamat. Pada malam kesembilan, seorang kyai memimpin doa dengan membakar dupa, membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan melantunkan dzikir. Setelah itu dilakukan penyembelihan seekor kambing dan ayam sebagai bagian dari prosesi keagamaan. Menjelang subuh, keluarga (disebut inan meniq) menyiapkan ancak berisi berbagai makanan tradisional, termasuk bagian tubuh kambing, yang kemudian ditutup kain putih polos dan diikat dengan benang mataq. Sekitar pukul enam pagi, kyai kembali datang untuk menyelesaikan ritual nyerah atau nyeleseang kemosak, ditandai dengan pembacaan doa dan penyerahan perlengkapan ritual kepada pihak yang berhak menerimanya.
Setelah sembilan hari, rangkaian berikutnya adalah Empat Pulu, yaitu upacara pada hari ke-40 yang didahului dengan pelayaran mingguan. Kemudian dilanjutkan dengan Nyatus (hari ke-100), Nyiu (hari ke-1000), dan Neun, yaitu peringatan tahunan yang diulang hingga sepuluh tahun setelah kematian. Dalam setiap tahap Gawe Pati, makam almarhum selalu disiram air dan diberi lekes atau keminang (daun sirih) sebagai simbol kesucian dan penghormatan. Pada hari ke-3, ke-7, dan ke-9, keluarga juga membuat serabi sebagai pelengkap doa dan tanda rasa syukur.
Secara simbolik, Gawe Pati mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Sasak. Ritual ini menekankan pentingnya doa, rasa syukur, dan penghargaan terhadap kehidupan dan kematian. Melalui tradisi ini, masyarakat Sasak menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga melalui semangat gotong royong. Gawe Pati bukan hanya ritual mengenang kematian, tetapi juga pengingat akan kehidupan — tentang pentingnya menjaga warisan budaya, menghormati leluhur, dan menanamkan nilai-nilai spiritual bagi generasi penerus.
Note: Diadaptasi dari Catatan Loq Bagus, Sekolah Alam Tetebatu




