Gerakan Literasi Budaya Daerah di Lombok berangkat dari kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Generasi muda Lombok kini lebih sering bersentuhan dengan budaya populer global ketimbang tradisi leluhurnya, padahal Lombok memiliki kekayaan budaya yang sangat berharga. Tradisi lisan bekesah, seni gendang beleq, peresean, wayang Sasak, tenun ikat, bahasa dan aksara daerah, hingga adat istiadat dalam upacara keagamaan maupun sosial merupakan aset budaya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat filosofi kehidupan. Sayangnya, sebagian di antaranya mulai jarang dipraktikkan, kurang terdokumentasi, dan berisiko hilang jika tidak diwariskan dengan baik.
Urgensi gerakan ini terletak pada kebutuhan untuk melestarikan budaya Lombok agar tetap hidup dan relevan dengan zaman. Literasi budaya bukan hanya memperkenalkan ragam tradisi, tetapi juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami, mengkritisi, dan mengaktualisasikan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, masyarakat Lombok dapat tetap berakar pada identitas budaya sendiri sambil beradaptasi dengan perkembangan global.
Manfaat yang dihasilkan dari gerakan ini sangat luas. Bagi masyarakat Lombok, gerakan ini akan menumbuhkan kembali rasa bangga dan cinta terhadap warisan leluhur, serta membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya, seperti pariwisata, kerajinan tangan, kuliner khas, dan seni pertunjukan. Bagi generasi muda, literasi budaya akan memperkuat identitas diri, memperkaya wawasan, serta memberi keterampilan baru, mulai dari penulisan, dokumentasi, hingga digitalisasi budaya. Sementara itu, bagi daerah, gerakan ini dapat memperkuat branding Lombok sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah secara alam, tetapi juga kaya secara budaya, sehingga mampu meningkatkan daya tarik bagi wisatawan dan investor.
Kontribusi Gerakan Literasi Budaya Lombok tidak hanya sebatas pada pelestarian tradisi, tetapi juga mendorong pendidikan berbasis kearifan lokal, memperkuat kohesi sosial antar suku Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo), serta melahirkan ruang kolaborasi lintas generasi. Gerakan ini juga mendukung penguatan literasi nasional dengan menjadikan budaya daerah sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa. Dengan demikian, kehadiran gerakan ini diharapkan mampu menjaga identitas Lombok sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia dalam merawat kebhinekaan.
