Salah satu agenda dari program Madrasah English Mentoring Progam adalah EduCulture Tour and Camp yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 November, di Desa Jurit Baru, Lendang Nangka Utara, Kembang Kuning, dan Tetebatu.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama MA Rautha NW Surabaya dan UNW Mataram yang berkolaborasi dengan Beruga Alam. Kegiatan tersebut tidak hanya berisi belajar budaya dan perjalanan yang melelahkan, tetapi juga menjadi sebuah perjalanan edukatif tentang hubungan antara adat dan agama, serta bagaimana masyarakat setempat menggabungkan keduanya: menjaga adat sekaligus menaati ajaran agama.
Perjalanan dimulai dari Desa Jurit Baru, kemudian berlanjut ke Lendang Nangka Utara, Kembang Kuning, dan berhenti di Rumah Adat Tetebatu. Tetebatu merupakan salah satu desa wisata yang cukup terkenal di kalangan wisatawan, baik mancanegara maupun lokal. Meskipun banyak lahan yang kini telah menjadi penginapan, Tetebatu tetap menjaga keberadaan rumah adat. Di rumah adat tersebut kami bertemu dengan ketua adat, Bapak Sukirman. Beliau berpesan agar generasi sekarang fokus pada agama dan tidak terlalu terlena oleh urusan dunia, karena agama adalah tiang kehidupan.
Bapak Sukirman juga menceritakan bahwa di Tetebatu terdapat tradisi Roros Reban (membersihkan sungai kecil). Tradisi ini mengandung pelajaran bahwa air yang bersih akan mengalirkan kehidupan yang bersih: makanan menjadi bersih, tubuh ikut bersih. Di Tetebatu juga dikenal konsep Wetu Telu (tiga waktu yang ditandai dengan kelahiran): waktu pertama adalah pernikahan, waktu kedua adalah kehamilan, dan waktu ketiga adalah kelahiran seorang anak sebagai awal kehidupan.
Dalam setahun, di Tetebatu juga terdapat tradisi membuat bubur pada tiga bulan pertama dalam kalender hijriah. Bulan Muharram dirayakan dengan membuat Bubur Puteq yang dimaknai sebagai simbol kehidupan yang bersih, karena Muharram adalah bulan pertama dari dua belas bulan, dan menjadi momen untuk memulai kehidupan dengan membersihkan diri. Bulan Safar dirayakan dengan Bubur Beak (bubur merah). Bulan Rabiul Awal dirayakan dengan Bubur Kuning, sebagai simbol kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW; di bulan ini perayaan maulid dilakukan, yang di daerah lain biasanya menggunakan nasi kuning, sedangkan di Tetebatu menggunakan bubur kuning. Adapun bulan-bulan berikutnya disebut bulan suwung (kosong), yaitu masa tanpa kegiatan tradisi khusus.
Beliau juga menjelaskan bagaimana adat berkaitan dengan agama, misalnya dalam pernikahan dan kematian. Dalam agama, pada saat menikah ada akad sebagai ijab kabul antara wali perempuan dan pengantin laki-laki. Dalam adat, prosesi ini disebut sorong serah. Sorong berarti “mendorong”, yakni keluarga perempuan menyerahkan anaknya kepada keluarga laki-laki. Serah berarti “menerima”, yaitu keluarga laki-laki menerima pengantin perempuan sebagai bagian dari keluarga mereka. Dengan cara inilah masyarakat Tetebatu merawat adat melalui praktik keagamaan.
Lalu, bagaimana kematian dapat memperlihatkan kesinambungan antara adat dan agama? Dalam adat Sasak, dikenal beberapa hari peringatan setelah kematian: nelung (3 hari), mituk (7 hari), nyiwak (9 hari), empat puluan (40 hari), dan nyatus (100 hari). Pada hari-hari tersebut diadakan zikir dan doa untuk almarhum. Hewan yang digunakan sebagai sajian biasanya manuk (ayam) yang dimaknai sebagai manuh (patuh), bembek (kambing) yang dimaknai sebagai bimbing, dan sampi (sapi) yang dimaknai sebagai penyampai. Selain itu, ketika ada orang meninggal dan acara masih berlangsung, di lokasi tersebut tidak boleh ada barang-barang yang haram.
Tiga hal yang harus selalu diingat, menurut beliau, adalah: 1. Kosong – masa ketika kita masih dalam proses belajar tentang agama dan adat. 2. Pertengahan – masa ketika kita sudah mulai memahami agama dan adat. 3. Kukuh – masa ketika kita menguatkan komitmen terhadap agama dan adat.
Beliau juga berpesan, “Jangan terlalu terlena oleh dunia. Sekarang lihat bagaimana dunia, oleh sebab itu kita harus tetap berpegang teguh pada agama dan menjaga adat, bagaimana adatnya orang Lombok.” Hal yang unik adalah bahwa siapa pun yang berkunjung ke rumah adat Tetebatu harus berjalan kaki, bahkan jika yang datang adalah seorang presiden.
Para peserta EduCulture Tour tampak antusias mengikuti kegiatan ekplorasi budaya tersebut. Salah satunya adalah Kasmi. Dia sangat sangat terkesan dengan Desa Wisata Tetebatu. “Kekaguman utama saya tertuju pada masyarakatnya yang memegang teguh tradisi dan adat istiadat”. Hal ini menyadarkannya bahwa di tengah arus modernisasi, masih eksis tempat yang menjunjung tinggi dan melestarikan budayanya secara kental.
Setelah kurang lebih setengah jam berdiskusi dengan Bapak Sukirman, kami pun kembali pulang (Diadaptasi dari Catatan Riadatul Hilmi-Mentor Madrasah English Mentoring Program). PS. Madarasah English Mentoring Progam merupakan program Pengabdian Masyarakat Universitas Nahdlatul Wathan Mataram yang didukung oleh Kementrian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi tahun 2025, yang di pimpin oleh Marham Jupri Hadi, M.Ed berkolaborasi dengan MA Raudlatut Thalibin NW Surabaya.
