Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki budaya, tradisi, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Keberagaman itu menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa, sekaligus menjadi warisan tak ternilai yang perlu dijaga. Salah satu tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat adat adalah Bekayaq Pataq Pade, tradisi khas masyarakat Sasak di Lombok.
Makna di Balik Tradisi
Dalam masyarakat adat Indonesia, tradisi bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga cara hidup dan pedoman moral yang mengatur hubungan antarmanusia dan antara manusia dengan alam. Begitu pula dengan Bekayaq Pataq Pade. Tradisi ini bukan hanya serangkaian ritual panen, tetapi juga wujud rasa syukur masyarakat terhadap anugerah Tuhan berupa hasil bumi yang melimpah.
Rangkaian tradisi ini dimulai dengan bersih desa, kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, dilanjutkan dengan bersih kubur, dan diakhiri dengan selametan yang biasanya dimeriahkan dengan pementasan wayang kulit. Semua kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur.
Suara Pantun di Tengah Sawah
Inti dari tradisi Bekayaq Pataq Pade adalah kegiatan bekayaq, yaitu pertukaran pantun antara laki-laki dan perempuan saat musim panen tiba. Biasanya, para perempuan lebih dulu berbekayaq sambil memanen padi, melantunkan pantun dengan suara nyaring yang menggema di tengah sawah. Suara itu kemudian menarik perhatian para laki-laki, yang datang untuk membantu panen sambil ikut berbalas pantun.
Bekayaq membuat suasana panen menjadi hidup dan penuh kegembiraan. Pekerjaan berat terasa ringan karena diiringi canda, pantun, dan tawa. Dalam momen ini, tumbuh interaksi sosial yang hangat dan rasa kebersamaan yang kuat antarwarga. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan muda-mudi dalam konteks yang santun dan berbudaya.
Ketika Tradisi Mulai Memudar
Sayangnya, seiring waktu, tradisi Bekayaq Pataq Pade mulai jarang dijumpai. Modernisasi, globalisasi, dan urbanisasi membawa perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat. Banyak anak muda yang memilih merantau ke kota, meninggalkan sawah dan kebiasaan nenek moyang mereka.
Budaya luar yang masuk lewat teknologi dan media sosial juga menggeser minat generasi muda terhadap tradisi lokal. Mereka lebih akrab dengan musik pop daripada pantun panen. Selain itu, kurangnya dukungan pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya menyebabkan tradisi ini semakin terpinggirkan.
Padahal, hilangnya satu tradisi bukan hanya kehilangan upacara atau ritual, tetapi juga hilangnya sebagian identitas dan jati diri suatu masyarakat.
Menjaga yang Lama di Tengah yang Baru
Lalu, bagaimana agar tradisi seperti Bekayaq Pataq Pade tidak punah?
Langkah pertama tentu dengan menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat bahwa tradisi adalah warisan yang patut dibanggakan, bukan sesuatu yang kuno. Sekolah, komunitas budaya, dan tokoh masyarakat dapat berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini.
Pemerintah daerah juga dapat menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari program wisata budaya, misalnya melalui festival panen atau lomba berbalas pantun. Dengan cara ini, tradisi bukan hanya hidup di tengah masyarakat, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Selain itu, generasi muda perlu dilibatkan secara aktif. Mereka bisa mengangkat Bekayaq dalam bentuk yang lebih modern—misalnya lewat konten digital, musik tradisional yang dikolaborasikan dengan unsur modern, atau dokumentasi budaya di media sosial.
Menutup dengan Syukur
Bekayaq Pataq Pade adalah cermin kehidupan masyarakat Sasak yang sederhana, penuh syukur, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar budaya yang membentuk jati diri bangsa.
Seperti pepatah mengatakan, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Setiap daerah memiliki caranya sendiri dalam merayakan kehidupan dan bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Bagi masyarakat Sasak, cara itu adalah lewat suara pantun yang menggema di tengah hamparan padi—suara yang semestinya terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Diadaptasi dari catatan “Loq Agus, Sekolah Alam Tetebatu”
